“Saya mau yang seperti ini ditata ulang. Jajaran direksi KITB harus mengkaji SHGB yang sudah dialihkan. Tenant yang telah menguasai lahan itu harus diberi peringatan. Tanyakan kapan dibangun? Kalau mereka serius, bantu percepat proses perizinannya. Saya ingin tenant lain juga seperti MNS ini. Beberapa bulan lalu mereka ekspose rencana bisnis di depan saya, kita yakinkan, dan Alhamdulillah hari ini ground breaking. Ini namanya bukan omon-omon,” ujar Afni, disambut tepuk tangan.
Afni menambahkan, Kementerian Perhubungan juga berjanji bahwa pengelolaan kawasan pelabuhan akan dikembalikan kepada Badan Usaha Pelabuhan (BUP) milik daerah. Prosesnya saat ini sedang dipersiapkan, dengan syarat kepengurusan BUP harus baru.
“Mohon doa agar pelabuhan di kawasan ini kembali kita kelola. Pasca ambruknya jembatan pelabuhan, saya langsung menghadap Bapak Menteri Perhubungan. Alhamdulillah beliau berjanji pengelolaan kawasan ini tetap diberikan kepada BUMD Siak, dengan catatan BUP-nya harus baru. Saat ini tengah kita siapkan,” sebut Afni.
Direktur PT MNS, Yudi Utomo, menjelaskan bahwa pembangunan galangan kapal ini akan menyerap sekitar 200 tenaga kerja, baik pada tahap pembangunan maupun saat operasional. Mayoritas tenaga kerja berasal dari lokal dengan latar belakang keahlian teknik.
“Sejak dibangun hingga beroperasi nanti, kami membutuhkan kurang lebih 200 tenaga kerja. Spesifikasinya mayoritas tenaga teknik, terutama teknik pengelasan. Kami mengikuti arahan Ibu Bupati untuk memprioritaskan warga Siak,” ujar Yudi.
Terkait potensi pasar, Yudi menyebutkan sangat besar. Berdasarkan hasil kajian feasibility study, tercatat arus kapal di Provinsi Riau mencapai 8.539 kapal domestik dan 331 kapal luar negeri.
“Lokasi ini sangat strategis karena dekat dengan muara dan menghadap langsung ke Selat Padang. Selain itu, grup PT MNS juga mengoperasikan 123 kapal milik sendiri. Kami percaya dengan komitmen kepemimpinan Ibu Bupati yang ramah investor, sehingga kami tidak ragu untuk berinvestasi tahap pertama lebih dari Rp100 miliar di sini,” jelasnya.
Selain membangun galangan kapal, PT MNS juga membangun fasilitas pemurnian air secara mandiri. Akses jalan sepanjang 1,2 km turut dibangun dengan nilai lebih dari Rp7 miliar untuk mendukung mobilitas di kawasan industri.
“Di sini kami juga membangun fasilitas Reverse Osmosis (RO) untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Tantangan di KITB adalah ketersediaan air bersih, sehingga kami upayakan mandiri. Begitu juga dengan jalan, setelah mendapat arahan dan dukungan Pemda Siak, kami bangun akses jalan sekitar Rp7 miliar,” tutupnya.
Parlindungan Tambunan












