Dewanusantaranews.com – Ketika Tuhan mencuci bumi dengan menumpahkan air dari langit, orang menyebutnya hujan. Ketika Tuhan membakar sampah yang tidak berguna di dunia, orang menyebutnya bencana seperti Tornado dan gempa yang mengicuh bumi. Mestinya kejadian semacam itu perlu direnungkan, seperti kata Ebiet G Ade, mungkin Tuhan telah bosan dengan keserakahan dan kerakusan manusia menguras sumber alam secara berlebihan. Kendati semua itu memang diciptakan Tuhan dengan segenap sunnatullah untuk kehidupan manusia sebagai khalifatullah di bumi.
Belahan dunia yang diterjang bencana itu semacam pertanda dari kemurkaan Tuhan yang mengabaikan petunjuk dan peringatannya agar tidak berlebihan — termasuk makan — secukupnya tidak harus sampai kenyang dan mendehak hingga sulit bernapas. Semua itu, sekali lagi seperti perilaku koruptor yang dilakukan oleh mereka yang abai pada tatanan etika dan moral sehingga tidak lagi berakhlak mulia sebagai manusia yang diciptakan Tuhan sebagai makhluk paling mulia dari segala makhluk yang ada, termasuk dibanding malaikat sekalipun.
Tapi tabi’at manusia memang memang diberi kebebasan untuk memilih, termasuk untuk mengikuti sifat-sifat iblis dan setan. Aki akibatnya tidak hanya menggoda untuk berbuat keburukan dan kejahatan, tetapj juga tega melakukan penganiayaan dan penyiksaan terhadap orang lain. Jadi bukan hanya merampas hak, tapi juga kebebasan dan kemerdekaan sesama manusia — apalagi untuk makhluk yang lain — seakan boleh diperlakukan sekehendak hati.
Lantas saat azab dan kemurkaan Tuhan dibiarkan mengganjar mereka yang berbuat onar itu, permohonan ampun pun sudah terlambat. Karena tulah atas perbuatan mereka sudah melampaui batas. Termasuk merusak tatanan hukum dan menjual laut yang merupakan milik bersama itu. Tetapi birahi kekuasan dalam wujud material telah menghabisi nilai-nilai spiritual sebagai jalan penghubung manusia bersanding bersama Tuhan. Karena Tuhan mereka telah berubah menjadi barang dan uang yang dianggap perlu bisa ditumpuk sebanyak-banyak mungkin. Padahal, ketika mati — bukan saja segala bentuk kekayaan itu tidak lagi diperlukan setelah berada di dalam kubur — acap kali pula bisa berubah menjadi bencana dalam bentuk lain yang menimbulkan perseteruan di dalam keluarga. Bagi yang percaya, inilah yang diyakini banyak orang sebagai bentuk dari apa yang tidak ada berkahnya.
Oleh sebab itu melakukan sedekah untuk mereka yang sangat memerlukan bantuan dan uluran tangan yang pengasih dan pemurah sangat diperlukan, bukan hanya agar rizki dan kenikmatan dalam bentuk lahir dan batin bisa diperoleh dengan mudah dan mendatangkan banyak berkah serta memberi manfaat lebih banyak kepada orang banyak.












