Dewanusantaranews.com – Harmoni dan keindahan itu adanya pada keberaragaman yang tidak senada atau tidak sewarna. Agaknya, itulah yang menyemangati Instruksi Presiden (Inpres) No. 14 Tahun 1967 tentang Agama, Kepercayaan dan Adat Istiadat China menentang kebijakan Presiden Soeharto yang dianggap diskrimiasi yang berujung pada pelarangan terhadap Haksu Tjhie hingga dinyatakan bersalah oleh Pengadilan Negeri Solo dengan ganjaran hukuman 6 bulan. Lalu semasa Presiden Gus Dur mencabut Inpres No. 14 tahun 1967 itu, dan memperbolehkan penganut Konghucu di Indonesia menjalankan ibadah dengan bebas. Bahkan Konghucu diakui sebagai salah satu agama yang keenam di Indonesia
Perayaan Natal yang dimaknai peringatan kelahiran Yesus Kristus (bagi Umat Kristen) atau Nabi Isa Alaihi salam bagi umat Islam artinya bisa dipahami sebagai penghormatan pada Nabi Isa untuk menyampaikan pesan dari langit — seperti Nabi lainnya yang dipercaya agama Samawi — untuk kebaikan dan keharmonisan hidup manusia di bumi yang sangat diyakini sebagai khalifatullah untuk menikmati apa yang dimaksudkan dari pengertian rahmatan lil alami dengan melaksanan amar ma’ruf nahi mungkar.
Dari catatan sejarah, Perayaan Natal setiap 25 Desember konon sudah dimulai sejak abad ke-4 Masehi, jauh sebelumnya perayaan Paskah bagi Umat Kristen sudah dilaksana. Adapun makna Paskah itu sendiri adalah Perayaan dalam tahun liturgi gerejawi Kristen yang identik dengan Yesus — yang disebut oleh Paulus — sebagai anak domba Paskah yang dipercaya oleh umat Kristen bahwa Yesus disalib, mati dan dikuburkan pada hari Jum’at sore, lalu pada hari yang ketiga — bangkit dari kubur pada hari Minggu pagi. Inilah sebabnya perayaan ini juga acap disebut Minggu Paskah, atau Minggu Kebangkitan.
Makna spiritual terdalam dari Perayaan Natal adalah ekspresi dari rasa syukur serta kegembiraan pada hari kelahiran Yesus Kristus yang dikenal oleh Umat Islam adalah Nabi Isa Alaihi salam. Al Qur’an pun menyebut Isa Alaihi salam sebagai Nabi yang ke-24 sekaligus Rasul yang ke-14 dengan kedudukan sebagai Ulul Azmi yang ke-4.
“…. Kami teruskan jejak mereka dengan mengutus Isa putra Maryam membenarkan kitab sebelumnya, yaitu Taurat. Dam Kami menurunkan Injil kepadanya, di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya, dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Taurat sebagai petunjuk dan pengajaran untuk orang-orang yang bertaqwa” (Al-Qur’an : Al-Ma’idah : 46). Nabi Isa juga dikenal dengan sebutan Almasih (Yang diurapi), Ruhullah yang menunjukkan kedekatannya dengan Allah. Dia dianggap sebagai sosok yang sangat saleh dan tunduk kepada Allah dalam ajaran dan kepercayaan Islam.
Kisah Nabi Isa dimulai dari kelahirannya yang ajaib, ia dilahirkan oleh Maryam tanpa hubungan manusiawi. Tanpa nikah dengan siapa pun. Seperti kabar yang yang langsung disampaikan oleh Malaikat Jibril. Kemudian dia bertumbuh menjadi seorang Nabi dan Rasul yang mengajarkan tauhid (Kepercayaan kepada Allah) untuk Bani Israil.












