Scroll untuk baca artikel
Deskripsi Gambar Deskripsi Gambar
Berita

Jacob Ereste Esoterika Forum Spiritualitas Resah Akan Punahnya Agama Asli Nusantara

×

Jacob Ereste Esoterika Forum Spiritualitas Resah Akan Punahnya Agama Asli Nusantara

Sebarkan artikel ini

Dewanusantaranews.com – Sifat dan sikap religius suku bangsa nusantara sungguh menandai keragaman dari kekayaan yang dimiliki dan langgeng sampai sekarang, meski terkesan tidak berkembang sebagaimana agama langit yang datang kemudian sejak beberapa abad silam yang lebih mendapat tempat di hati warga masyarakat. Sejumlah daftar agama kuno asli Nusantara tercatat diantaranya Adat Musi (Suku Talaud, Sulawesi Utara), Adat Papua (Suku Asmat, Papua), Aluk Todolo (Suku Toraja, Sulawesi Selatan), Arat Sabulungan (Suku Mentawai Sub suku Sakuddel, Sumatra Barat), Bungan Suku Dayak Kenyah dan Dayak Kayan), Buhun (Suku Sunda), Fanomba Adu (Suku Nias, Sumatra Utara), Halaika (Suku Boti), Hindu Bali (Suku Bali), Hindu Jawa/Budha Tengger (Suku Jawa, khususnya Suku Tengger), Jingi Tiu (Suku Sabu, Nusa Tenggara Timur), Kaharingan (Suku Dayak, Kalimantan Tengah), Kejawen (Suku Jawa), Kuda Kurin Suku Lamaholot, Nusa Tenggara Timur), Lamoa (Suku Pamona, Sukawesi Tengah), Merapu (Suku Sumba, Nusa Tenggara Timur), Masade (Suku Sangir, Sulawesi Utara), Momolianisme (Suku Dayak Kadasandusun, Sabah, Malaysia Timur), Naurus (Suku Manusela, Maluku), Pamena (Suku Batak Karo, Sunatra Utara), Sunda Wiwitan (Suku Sunda, Urang Kanekes), Tolotang (Suku Bugis, Sulawesi Selatan), Tonaas Walian (Suku Minahasa, Sulawesi Utara), Ugamo Malim (Suku Batak Toba, Sumatra Utara), Wetu Telu (Suku Sasak, Nusa Tenggara Barat) dan Wor (Suku Biak, Papua).

Baca Juga  Satlantas Polres Batu Bara Patroli Blue Light Pantau Arus Lalin

Dari keragaman agama asli suku bangsa nusantara ini jelas mengisyaratkan bahwa bangsa Indonesia asli yang berasal dari berbagai suku bangsa Nusantara sangat religius, karena sudah memiliki agama sebelum agama Samawi datang ke Nusantara hingga kini dominan memeluk Islam, Kristen dan Hindu Serta Budha serta Kong Hu Cu yang baru diakui beberapa waktu kemudian.

Agama yang resmi ada di Indonesi adalah Islam, Kristen (Protestan), Katolik (Kristen Katolik), Hindu, Budha. Data dari Kementerian Dalam Negeri hingga akhir tahun 2023 mencatat jumlah pemeluk Islam 244,41 juta atau 87,1 persen dari total jumlah penduduk Indonesia. Kristen 10,55 persen, Hindu 1,71 persen dan Budha 0,74 persen. Sedangkan Konghucu 0,05 persen dan agama lainnya ada 0,03 persen dari total penduduk Indonesia. Sedangkan agama lain yang ada di dunia seperti yang tercatat di laman Britanica diantaranya adalah Sikhisme, Yahudi, Taoisme, Muisme, dan Cao Dai serta Shinto.

Baca Juga  Alfedri ; Arah Pembangunan Untuk Kemaslahatan Umat Agar Negeri Mendapat Berkah

Dari berbagai kisah, sebelum Nusantara dihuni oleh suku bangsa Austronesia (berkulit coklat) bangsa proto Melanesia (berkulit hitam) sudah menganut kepercayaan monoteistik yang kini dikenal dengan sebutan Kapitayan. Beberapa diantara agama asli nusantara yang masih hidup yang sinkritisme hingga Hindu Bali, Kejawen serta Masade (Islam Tua) maupun Syamanisme Melayu dan Kepercayaan Kaum Abangan, tetap ada meski penganutnya semakin berkurang.

Agaknya, atas dasar kegusaran akan punahnya agama asli leluhur suku bangsa nusantara inilah, Esoterika Forum Spirituslitas bekerja sama dengan Majlis Luhur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Infonesia (MLKI) dan Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika (ANTBI) merasa perlu untuk mendiskusikannya secara terbuka tentang “Masa Depan Agama Leluhur di Indonesia” pad hari Sabtu, 7 Desember 2024 pukul 09.30 sampai selesai fo Auditorium Garuda, Balai Pelatihan Kesehatan (BBPK) Jl. Wijaya No. 45, Pondok Labu, Cilandak, Jakarta Selatan.

Baca Juga  Polsek Kandis Salurkan Bantuan Sosial untuk Warga Penerima Program Bedah Rumah

Nara sumber yang yang akan ikut membedah agama leluhur yang dapat menjadi cermin dari kearifan lokal dan spiritualitas suku bangsa nusantara yang telah bersatu menjadi Indonesia sejak bangsa dan negara Indonesia diproklamasikan pada 17 Agustus 1945, memiliki peran dalam memperkuat identitas budaya kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *