Scroll untuk baca artikel
Deskripsi Gambar Deskripsi Gambar
Berita

PROF, DR. SUTAN NASOMAL. SH. MH. PHD, Mafia Pupuk Subsidi Ancaman Ketahanan Pangan, Harus Ditindak Tanpa Pandang Bulu

×

PROF, DR. SUTAN NASOMAL. SH. MH. PHD, Mafia Pupuk Subsidi Ancaman Ketahanan Pangan, Harus Ditindak Tanpa Pandang Bulu

Sebarkan artikel ini

Pasaman Sumbar – Dewanusantaranews.com – Kilas Balik permasalahan peredaran pupuk dilapangan perlu pendampingan dari pemerintah pusat kementerian pertanian maupun gubernur bupati diseluruh NKRI biar swasembada pangan terjamin mengikis tikus berdasi bermain bisnis dibalik penyebaran perdagangan pupuk untuk petani yang selama ini sepertinya berjalan mulus”ujar Prof Dr Sutan Nasomal SH MH Pakar Hukum Internasional, Ekonom Nasional menanggapi materi pertanyaan para pemimpin Redaksi media onlen mau baikcetak baik dalam maupun luar negeri di kantornya markas pusat partai oposisi Merdeka di Bilangan Cijantung Jakarta 4/1/2026
Via telpon selulernya.
Menurutnya diseluruh Indonesia sela ini para petani sepertinya sangat menginginkan sekali agar Bapak Presiden Prabowo Subianto menugaskan menteri bersama sama Polri dan TNI juga Gubernur Bupati Walikota bersama sama menangani permasalahan peredaran pupuk bagi petani diseluruh Indonesia agar terjamin secara sempurna tidak merugikan menyulitkan para petani itu sendiri. Sebagaimana yang terjadi di daerah Kab Pasangan Sumatera Barat saat ini”, imbuhnya mengomentari kelangkaan pupuk didaerah Minangkabau saat ini.

Baca Juga  Antisipasi Kenakalan Remaja, Polres Batubara Laksanakan Police Goes To School

 

Pasaman,
Petani di Kabupaten Pasaman mengeluhkan kesulitan memperoleh pupuk subsidi menjelang musim tanam, meskipun data aplikasi penyaluran justru menunjukkan serapan masih rendah.

Ketidaksesuaian antara data dan kondisi lapangan ini memicu sorotan tajam terhadap distribusi pupuk, sekaligus menguatkan dugaan adanya praktik mafia pupuk subsidi.

Berdasarkan data aplikasi penyaluran pupuk subsidi, hingga akhir tahun 2025 tingkat serapan pupuk subsidi pada sejumlah kelompok tani di Kabupaten Pasaman tercatat masih rendah.

Kondisi ini menimbulkan tanda tanya besar, sebab pada saat bersamaan petani di lapangan justru mengaku kesulitan memperoleh pupuk subsidi ketika kebutuhan meningkat.

Pada salah satu kelompok tani, pupuk Urea (N 46%) memiliki alokasi sebesar 13.050 kilogram. Namun realisasi penyalurannya baru mencapai 9.175 kilogram atau sekitar 71 persen, sehingga masih tersisa alokasi 3.875 kilogram. Ironisnya, data yang sama juga mencatat sisa stok Urea mencapai 10.525 kilogram.

Baca Juga  Polsek Indrapura Patroli Malam Perkuat Kamtibmas

Sementara itu, penyaluran pupuk NPK Phonska tercatat lebih rendah. Dari total alokasi 26.100 kilogram, pupuk yang tersalur baru 8.750 kilogram atau sekitar 34 persen.

Artinya, masih terdapat sisa alokasi 17.350 kilogram, dengan sisa stok tercatat 2.150 kilogram.

Rendahnya angka serapan dalam data tersebut dinilai tidak mencerminkan kondisi riil di lapangan.

Sejumlah petani mengaku harus berulang kali mendatangi kios atau pengecer pupuk, namun pupuk subsidi yang dibutuhkan kerap tidak tersedia, terutama menjelang musim tanam.

“Di data katanya pupuk masih banyak, tapi di lapangan kami justru sulit mendapatkannya.
Sudah bolak-balik ke kios, jawabannya selalu kosong, padahal musim tanam sudah dekat,” keluh seorang petani di Pasaman.

Baca Juga  Satres Narkoba Polres Siak Kembali Gelar Kegiatan Penyuluhan Bahaya Penyalahgunaan Narkoba Kepada Pelajar

Ketidaksesuaian antara data aplikasi dan kondisi lapangan ini memunculkan dugaan adanya persoalan serius dalam rantai distribusi pupuk subsidi. Dugaan tersebut disebut-sebut melibatkan berbagai pihak, mulai dari distributor, kios tani atau pengecer, hingga kelompok tani, sehingga berdampak langsung pada kesulitan yang dialami petani.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *